Kali ini aku memposting tulisan tentang pengalaman backpackeran bersama teman-teman Aceh Adventure di masa liburan.
Sabtu 11 januari 2014, aku
beserta rombongan aceh adventure, ada k wanti, yuli, putri, k cut, k Juliana,
fahry, rahmat, sanca, b iqbal, yassir, ampon, rifky dan silman berkumpul di pos
Aceh Adventure yang tepat berada di depan Polsek Kuta Alam Banda Aceh. Kami akan
menuju Pulo Bunta, yaitu Pulau yang termasuk salah satu desa dari 26 desa
kecamatan Peukan Bada, kabupaten Aceh Besar.
![]() |
Prepare to Pulo Bunta |
Pulau Bunta ini memiliki tiga
dusun, Ujung Bada, Mon Teungoh, dan Ujung Bilih, Sebelum Tsunami, Pulau ini
dihuni lebih dari 60 KK, tapi setelah Tsunami hanya sekitar 40 an KK. Bukan
sebagai tapal batas, tapi penyangga tapal batas, semaentara pulau terujung
merupakan pulau Rondo. Perjalanan dimulai dengan menggunakan boat khusus, yaitu
milik penduduk/ nelayan pulau bunta, setiap boatnya sebenarnya muat 13 orang,
oleh karenanya, kami dengan jumlah 15 orang ditambah 6 orang penduduk asli
pulau bunta termasuk pawang menggunakan 2 buah boat dari pulau tersebut. Tetapi
untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, apalagi dengan menggunakan boat
kecil, setiap boatnya hanya diisi dengan 10 penumpang sahaja. Kami berangkat
dari pelabuhan Tempat Penampungan Ikan (TPI) yang ada di Lamteungoh, Aceh
Besar.
![]() |
TPI Lamteungoh Aceh Besar |
Perjalanan memakan waktu lebih kurang 1 jam 15 menit. Perjalanan 60
menit lebih itu sama sekali tidak membosankan, karena disepanjang jalan, banyak
kita temui pulau-pulau Aceh lainnya, seperti kawasan wisata Lhok Mata-Ie, Pulau
Batu, Pulau Tuan (yang konon katanya tempat yang asyik buat Diving), dan
Pulau-pulau lainnya.
![]() |
Pemandangan pepulauan di sekitar pulau Bunta (kiri ke kanan: Lhok Mata ie, Pulau Batu, Pulau Tuan) |
Hamparan birunya laut memuaskan pemandangan bebatuan besar
di pulau juga menambah ketakjuban akan ciptaan Tuhan. Meskipun agak sedikit
pusing dengan asap dan tidak terbiasa dengan bunyi boat, akhirnya tibalah kami
di tepian pantai Pulau Bunta. Selama 2 hari satu malam kami ditemani oleh Pak
Aryadi ketua pemuda pulau Bunta, beliau sangat ramah dan welcome sekali kepada
kami dan pendatang pulau Bunta. Beliau sangat ingin suatu saat pulau ini
dikenal bukan hanya masyarakat local tapi juga masyarakat internasional,
sehingga nantinya bermanfaat dan mendatangkan hasil bagi masyarakat pulau
tersebut. Berkat jasa beliau dan kelompok kecilnya mampu meyakinkan penduduk
agar tidak menutup diri dan menerima masyarakat luar yang datang berkunjung.
Ini dia Ketua Pemuda Pulo Bunta Pak Aryadi sedang asyik bercerita |
Sedikit Intermezo Cerita Tsunami selamat berkat insting sapi dan burung
Ketika Tsunami melanda, terdengar
dentuman keras dari pulau ini, masyarakat sekitar mengira itu adalah dentuman
senjata, karena di pulau ini juga termasuk tempat persembunyian dan basis
angkatan bersenjata pada masa konflik. (hanya pernah disinggahi, karena
persembunyiannya di pulau seberang). Ketika itu Pak Aryadi melihat ke arah
laut, dentuman itu membuat surut air sehingga hampir setengah daratan lautan
itu terlihat, pemandangan yang luar biasa memang. Beliau sempat terkesima
sesaat, lalu tersadar ketika melihat sapi (orang aceh menyebutnya lembu)
berlarian menjauh dari laut, burung-burung pun riuh ramai beterbangan. Pulau
kecil yang ada di depannya juga terlihat tenggelam oleh air, sempat ia berpikir
kalau pulau itu saja sudah tenggelam, apalagi rumah dan meunasah ini. Lalu
sontak ia dan istrinya lari menuju ketinggian. Ketika keadaan dirasa sudah
aman, ia dan istrinya kembali turun dari bukit, benar saja, rumah-rumah habis
tanpa bekas (saat itu perumahan penduduknya adalah rumah panggung dan terbuat
dari kayu). Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang tidak percaya akan
datangnya bencana Tsunami, karena mereka dari pagi sudah pergi ke gunung dan tidak
merasakan guncangan gempa yang maha dahsyat kala itu. Mereka beranggapan
rumah-rumah mereka disembunyikan makhluk ghaib dan terus menerus berdoa meminta
untuk dikembalikan. Bahkan, mereka menuding Pak Aryadi dan istrinya digelapkan
matanya karena mereka tidak percaya akan adanya air laut yang sedemikian tingginya
menghempas dan ‘membersihkan’ pulau mereka.
Perjalanan team di Pulau Bunta
![]() |
Pulo Bunta |
Menurut Pak Aryadi, dinamakan Pulau Bunta karena terlihat seperti Bungkuk Unta/ Unta yang sedang membungkuk. Tuh Liat pemirsah, kira-kira seperti unta yang sedang membungkuk gak yaaa?
Sesampainya di tepian pantai,
harus rela berbasah-basahan, Karena kapal tak bisa mendarat ke
daratan lebih jauh. Padahal, sudah ada pelabuhan yang didirikan oleh dinas
perhubungan terkait, entah karena kekurangan dana atau apa, sehingga tidak
dapat berfungsi dengan baik, berbeda dengan pelabuhan yang pernah dibangun
masyarakat dulu sebelum tsunami yang naik/turun kapal tidak perlu berbasah-basahan, hanya saja, bangunan pelabuhan
tersebut sudah dihampas Tsunami.
![]() |
Atas : pelabuhan yang pernah dibangun warga
kapal mendarat sampai ke tepian pantai
bawah: pelabuhan yang dibangun pemerintah
pasca tsunami
|
Sesampainya di sana kami memberikan sedikit
gula, kopi dan roti untuk pawang di sana, sekedar informasi keberangkatan
menuju ke Pulau Bunta ini berdasarkan instruksi oleh pawang, kalau menurut si
pawang dengan melihat bulan dan bintang nya oke, kita baru boleh jalan, karena
beliau punya perhitungan khusus mengenai angin laut, jadi gak bisa sembarangan
datang juga. Berbekal logistic yang cukup untuk 2 hari 1 malam kami pun sampai
di tepian pantai. Logistic harus dibawa secukupnya, karena sesampai di sana
sama sekali tidak ada kios ataupun penjaja makanan seperti dipantai wisata
lainnya, 1 box mie instan sekarung beras, cukuplah untuk kebutuhan 15 orang,
hanya, 3 galon air mineral ternyata gak cukup, mungkin lain kali such a good
idea to bring beberapa box air mineral gelas. Akhirnya kekurangan air kami
siasati dengan memasak air sumur tawar yang ada disekitar yang biasa juga
sebagai air minum bagi warga setempat, tapi jujur ada rasa gak biasa waktu
airnya masuk di kerongkongan, hihihi tapi hajjar aja, ketimbang haus :p.
Para lelaki abang-abang mulai
mendirikan tenda untuk penginapan kami malamnya.
![]() |
Sebagian yang kakak2 mulai
memasak untuk makan siang, berikut kopi acehnya yang gak pernah absen.
![]() |
kopi Aceh gak pernah abseeen |
Hari pun mulai gelap, kita
berjalan ke ujung bili untuk mengabadikan sunset, tapi sayangnya sunsetnya gak
terlalu cettar karena ditutupi awan, nah di ujung bili ini kami banyak
menemukan karang merah.
Sunset di ujung Bilih |
Karang merah ini unik lho pemirsah, gak banyak pulau
yang memiliki kerang merah, hanya beberapa saja, dan jenis kerang ini ditenggarai sudah hampir punah.
![]() |
Karang Merah di sekitar Ujung Bilih |
Usai menikmati sunset, kita
kembali ke perkemahan, memasak mie instan dan telur ala chef Fahry dkk,
sementara yang lainnya memasang tenda lainnya untuk anak laki2, sementara yang
lain lagi berfoto2 narsis dengan memanfaatkan cahaya dari api unggun dan
senter.
Oiyah, sangat disarankan untuk membawa lampu emergency, senter, juga
power bank, karena di sini sulit mendapatkan listrik, listrik ada di daerah
mercusuar, itu pun dengan menggunakan tenaga panel surya. yang letaknya cukup jauh.
Karena kelamaan menunggu nasi
yang tak kunjung mateng karena angin kencang pake sangat, akhirnya beberapa dari
kami ketiduran di dalam tenda, angin semakin kencang, tenda pun nyaris terbang,
hingga akhirnya jam 2 pagi pawang menginstruksikan supaya kami tidur di
menasah, karena tidak memungkinkan tidur di bibir pantai dengan angin yang
membahana badday seperti itu. Dan akhirnya kami bobo cantik di meunasah, tidur
cepat karena berencana pagi menuju iku manee untuk melihat sunrise. Dan yang
uniknya, di pulau ini sama sekali gk ada monyet, dan nyamuk juga gak gigit,
semut merahnya juga demikian, rombongan semutnya dibiarin aja dikaki gak
bakalan gigit, ruar biasa kan =D.
Pagi dataaaang! Sudah
diprediksikan kagak ada yang bangun pemirsah, ada sih tapi berat buanget buat beranjak
haddeuh. Dan akhirnya jam setengah 7 pagi, selesai subuh, aku mengejar matahari
di pinggiran pantai ditempat kami pasang tenda semalam. Subhanallah, matahari
masi nungguin akyuwww ^^ akhirnya dapet deng puto sunrise hehehehe.
![]() |
Sunrise Pulo Bunta |
Selesai sarapan dengan mie instan
again, kita berjalan ke daerah di mana mercusuar berada, atawa disebut dengan
iku manee, perjalanan menempuh kira-kira 1 jam lah, tapi jadi lebih lama karena di
tiap tanjakan kita selalu berhenti buat bernarsis ria, abis gak tahan cyiiin
pemandangannya buagooos buangettt.
Perjalanan cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di mercusuar, kalo orang sekitar sini menyebutnya menara suar.
Perjalanan cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di mercusuar, kalo orang sekitar sini menyebutnya menara suar.
![]() |
Menara Suar |
Nah, mercusuar ini masi berfungsi sebagai lampu penunjuk bagi kapal sebagai penanda bahwa di sini ada pulau. Di situ juga terletak kantor penjaga pantai yang mengawasi navigasi dan koordinat mercusuar tersebut.
Ditengah-tengah ini ada pulau cinta, karena bentuknya seperti love sendiri ditengah tapi gak bisa diseberangi, karena gak ada boat.
Akhirnya, kelelahan dalam
perjalanan terbayar dengan pemandangan yang ruaaar biate di iku manee ini
whoooowwh. Sampe lupa kalo tadi kami udah jalan berkilo-kilo ditengah terik
matahari ditambah jalanan curam yang menanjak.
Cukup lama kami menghabiskan
waktu di iku manee yang tempatnya mirip grand canyon kawe ya :p di atas bukit
aku melihat jurang lautan, di jurang itu terklihat satu-satunya ikan bewarna
tosca, cakep banget, ternyata ikan bayen, sayangnya sebenarnya ada
segerombolan, tapi mungkin karena ingin menyendiri atau juga bisa disebabkan
dengan pengeboman nelayan sekitar pulau yang menangkap ikan, jadinya ikannya
Cuma satu deng. Kata pak aryadi sih, ikan itu enak, tapi aku kasian, kok
dimakan sik, pan tinggal seekor T_T.
Akhirnya setelah berlama-lama dan
poto keluarga, kami kembali ke peraduan, nah, kali ini penat matahari mulai
kerasa, akhirnya kita berteduh dikantor penjaga pantai tadi, disambut dengan
ramah oleh bapak-bapak di sana. Kamipun berleha-leha dan tegechak update2
status karena ada sinyal, juga ada tv *whaaa padaal baru sehari gak ada listrik
dan susah sinyal ckckck.
Karena berniat menyeberang pulau
yang dekat dengan ujung bili sebelum airnya pasang, maka kami pun beranjak dari
tempat tersebut, menuju pos dan mengangkut barang-barang untuk pindah pos ke
dekat pelabuhan. Akhirnya setelah makan siang, kami ke ujung bili dan ternyata
air sudah agak meninggi, Pak Aryadi tetap menyebrang di pulau seberang
sementara kami kembali karena kaki terasa perih dan tergores karang sangat
sulit berjalan di antara karang-karang dengan air laut yang mencapai pinggang
dewasa. Lagian kami kasihan menginjak karang, merusak ekosistem dan biota laut
kan yak.
Sementara sang Chef memasak mie
instan dan telur di atas balee (rumah kecil di pinggir pantai) kami
bercengkerama dan melihat hasil jeprat jepret dari kamera yuli, k jupe, dan
ampon. Ehh tetiba si pak aryadi datang dengan membawa binatang laut bewarna
ungu. Cuantik beud. Namanya subang gadung. Bentuknya seperti tempurung kura-kura, dan dibaliknya ada tentakel seperti cumi-cumi.
si bapak juga membawa
keong yang asik dibuat gulai pliek u (ketinggalan di pelabuhan T_T) dan 2 ekor
subang gadung tadi. Nahh, subang gadung ternyata bisa di makan pemirsah, karena
penasaran, akhirnya salah satu terpaksa dikorbankan dibakar di bawah batok
kelapa sementara yang satunya dilepas karena kasihan.
Tereeeng akhirnya subang gadung
sudah matang, ketika dibelah, isinya seperti telur ikan, dan rasanya manceps,
lezattos, seperti rasa kerang, ada juga
yng bilang rasa kepiting. Nahhh karena enak, celetuk tuh salah satu teman “mana
yang tadi dilepas? Uda jauh belum yahhh” hahhaa dassarr :p
![]() |
Subang Gadung |
Okey then, hari udah mulai sore,
makanan juga uda abis, akhirnya tiba waktu pulang, ternyata angina makin sore
makin kuenceng, pertanda angin badai akan datang. Sempat kami ragu untuk balik
ke banda aceh. tapi mau gimana harus back to daily routine… akhirnya beber
azah, kami berangkat dengan dua kapal, kapal/ boat kecil yang aku naiki ruarr
biasa serunya, seperti rafting, hahah
aku malah senang, tapi temen satunya kaka juli ehhh pucat abis pemirsah, sabar
ya kaka :D dikibulin fahry abis belokan uda nyampe- cyeilee emang di laut ada
belokan ya --“ sekalian aja lampu merah paaak- akhirnya kami tiba di banda aceh
dengan selamat sentosa dan sejahtera. Aku bawa oleh-oleh karang merah – tapi
hanya potongan kecil yang terdampar di tepian pantai, ini karena g bole bawa
banyak-banyak, karena kerang merah ini harta nya pulo Bunta, harus dilestarikan-
daaan satu lagi, sampah-sampah semua harus dibawa pulang ya, karena demi
menjaga kebersihan alam dan tidak mencemari lingkungan, semoga semua backpacker
sadar akan hal itu amiiin, kasian kan udah menikmati alamnya eh malah nyampah,
bener-bener dehhh ;/.
![]() |
Hasil menyampah di Pulo Bunta yang dibawa balik ke Banda Aceh |
Wuiiih what a fascinating trip
with a solid team Bunta island, even just two days :D. ingin mengulang petalangan
lagi, tapi di tempat berbeda, next time yak. Terima kasih aceh adventure,
terima kasih k wanti, k juli, k icut, yuli, putri, nadia, dea, rifky, ampon,
rahmat, sanca, fahry, silman, yassir, b iqbal, such a nice experience with u
guys =D dan juga pak Aryadi dan penduduk Pulo Bunta yang ramah tamah. Eiyah,
sekedar informasi, bulan maret 2014 mendatang, salah satu step yang dilakukan
pemerintah dan juga pak aryadi dan kelompoknya adalah mengupayakan pengadaan
Boat khusus yang lebih bagus, untuk akses para wisatawan yang mau berkunjung ke
pulo Bunta, semoga lancar jaya ya, dan dukungan pemerintah sepenuhnya secara
serius sangat diharapkan, karena penduduk Bunta sendiri sudah mulai menerima
pendatang, terbukti sangat bersikap ramah pada kami, hal ini agar Pulo Bunta
yang eksotis ini dapat dikenal oleh masyarakat luar dan memberi manfaat bagi
penduduk setempat, bukan hanya menjadi destinasi wisatawan local tapi juga
wisatawan mancanegara. Amiiiiiin.
![]() |
Penjelajah Pulo Bunta |