Saturday, January 25, 2014

cerita di penyangga Tapal Batas Sumatera (Pulo Bunta/ Pulau Bunta)


Kali ini aku memposting tulisan tentang pengalaman backpackeran bersama teman-teman Aceh Adventure di masa liburan.
Sabtu 11 januari 2014, aku beserta rombongan aceh adventure, ada k wanti, yuli, putri, k cut, k Juliana, fahry, rahmat, sanca, b iqbal, yassir, ampon, rifky dan silman berkumpul di pos Aceh Adventure yang tepat berada di depan Polsek Kuta Alam Banda Aceh. Kami akan menuju Pulo Bunta, yaitu Pulau yang termasuk salah satu desa dari 26 desa kecamatan Peukan Bada, kabupaten Aceh Besar. 
Prepare to Pulo Bunta

Pulau Bunta ini memiliki tiga dusun, Ujung Bada, Mon Teungoh, dan Ujung Bilih, Sebelum Tsunami, Pulau ini dihuni lebih dari 60 KK, tapi setelah Tsunami hanya sekitar 40 an KK. Bukan sebagai tapal batas, tapi penyangga tapal batas, semaentara pulau terujung merupakan pulau Rondo. Perjalanan dimulai dengan menggunakan boat khusus, yaitu milik penduduk/ nelayan pulau bunta, setiap boatnya sebenarnya muat 13 orang, oleh karenanya, kami dengan jumlah 15 orang ditambah 6 orang penduduk asli pulau bunta termasuk pawang menggunakan 2 buah boat dari pulau tersebut. Tetapi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, apalagi dengan menggunakan boat kecil, setiap boatnya hanya diisi dengan 10 penumpang sahaja. Kami berangkat dari pelabuhan Tempat Penampungan Ikan (TPI) yang ada di Lamteungoh, Aceh Besar. 
TPI Lamteungoh Aceh Besar

Perjalanan memakan waktu lebih kurang 1 jam 15 menit. Perjalanan 60 menit lebih itu sama sekali tidak membosankan, karena disepanjang jalan, banyak kita temui pulau-pulau Aceh lainnya, seperti kawasan wisata Lhok Mata-Ie, Pulau Batu, Pulau Tuan (yang konon katanya tempat yang asyik buat Diving), dan Pulau-pulau lainnya. 
Pemandangan pepulauan di sekitar pulau Bunta (kiri ke kanan: Lhok Mata ie, Pulau Batu, Pulau Tuan)





Hamparan birunya laut memuaskan pemandangan bebatuan besar di pulau juga menambah ketakjuban akan ciptaan Tuhan. Meskipun agak sedikit pusing dengan asap dan tidak terbiasa dengan bunyi boat, akhirnya tibalah kami di tepian pantai Pulau Bunta. Selama 2 hari satu malam kami ditemani oleh Pak Aryadi ketua pemuda pulau Bunta, beliau sangat ramah dan welcome sekali kepada kami dan pendatang pulau Bunta. Beliau sangat ingin suatu saat pulau ini dikenal bukan hanya masyarakat local tapi juga masyarakat internasional, sehingga nantinya bermanfaat dan mendatangkan hasil bagi masyarakat pulau tersebut. Berkat jasa beliau dan kelompok kecilnya mampu meyakinkan penduduk agar tidak menutup diri dan menerima masyarakat luar yang datang berkunjung.
Ini dia Ketua Pemuda Pulo Bunta Pak Aryadi sedang asyik bercerita

Sedikit Intermezo Cerita Tsunami selamat berkat insting sapi dan burung
Ketika Tsunami melanda, terdengar dentuman keras dari pulau ini, masyarakat sekitar mengira itu adalah dentuman senjata, karena di pulau ini juga termasuk tempat persembunyian dan basis angkatan bersenjata pada masa konflik. (hanya pernah disinggahi, karena persembunyiannya di pulau seberang). Ketika itu Pak Aryadi melihat ke arah laut, dentuman itu membuat surut air sehingga hampir setengah daratan lautan itu terlihat, pemandangan yang luar biasa memang. Beliau sempat terkesima sesaat, lalu tersadar ketika melihat sapi (orang aceh menyebutnya lembu) berlarian menjauh dari laut, burung-burung pun riuh ramai beterbangan. Pulau kecil yang ada di depannya juga terlihat tenggelam oleh air, sempat ia berpikir kalau pulau itu saja sudah tenggelam, apalagi rumah dan meunasah ini. Lalu sontak ia dan istrinya lari menuju ketinggian. Ketika keadaan dirasa sudah aman, ia dan istrinya kembali turun dari bukit, benar saja, rumah-rumah habis tanpa bekas (saat itu perumahan penduduknya adalah rumah panggung dan terbuat dari kayu). Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang tidak percaya akan datangnya bencana Tsunami, karena mereka dari pagi sudah pergi ke gunung dan tidak merasakan guncangan gempa yang maha dahsyat kala itu. Mereka beranggapan rumah-rumah mereka disembunyikan makhluk ghaib dan terus menerus berdoa meminta untuk dikembalikan. Bahkan, mereka menuding Pak Aryadi dan istrinya digelapkan matanya karena mereka tidak percaya akan adanya air laut yang sedemikian tingginya menghempas dan ‘membersihkan’ pulau mereka.

Perjalanan team di Pulau Bunta

Pulo Bunta
Menurut Pak Aryadi, dinamakan Pulau Bunta karena terlihat seperti Bungkuk Unta/ Unta yang sedang membungkuk. Tuh Liat pemirsah, kira-kira seperti unta yang sedang membungkuk gak yaaa?
Sesampainya di tepian pantai, harus rela berbasah-basahan, Karena kapal tak bisa mendarat ke daratan lebih jauh. Padahal, sudah ada pelabuhan yang didirikan oleh dinas perhubungan terkait, entah karena kekurangan dana atau apa, sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik, berbeda dengan pelabuhan yang pernah dibangun masyarakat dulu sebelum tsunami yang naik/turun kapal tidak perlu berbasah-basahan, hanya saja, bangunan pelabuhan tersebut sudah dihampas Tsunami.
Atas : pelabuhan yang pernah dibangun warga
kapal mendarat sampai ke tepian pantai
bawah: pelabuhan yang dibangun pemerintah
pasca tsunami

Sesampainya di sana kami memberikan sedikit gula, kopi dan roti untuk pawang di sana, sekedar informasi keberangkatan menuju ke Pulau Bunta ini berdasarkan instruksi oleh pawang, kalau menurut si pawang dengan melihat bulan dan bintang nya oke, kita baru boleh jalan, karena beliau punya perhitungan khusus mengenai angin laut, jadi gak bisa sembarangan datang juga. Berbekal logistic yang cukup untuk 2 hari 1 malam kami pun sampai di tepian pantai. Logistic harus dibawa secukupnya, karena sesampai di sana sama sekali tidak ada kios ataupun penjaja makanan seperti dipantai wisata lainnya, 1 box mie instan sekarung beras, cukuplah untuk kebutuhan 15 orang, hanya, 3 galon air mineral ternyata gak cukup, mungkin lain kali such a good idea to bring beberapa box air mineral gelas. Akhirnya kekurangan air kami siasati dengan memasak air sumur tawar yang ada disekitar yang biasa juga sebagai air minum bagi warga setempat, tapi jujur ada rasa gak biasa waktu airnya masuk di kerongkongan, hihihi tapi hajjar aja, ketimbang haus :p.
Para lelaki abang-abang mulai mendirikan tenda untuk penginapan kami malamnya. 


Sebagian yang kakak2 mulai memasak untuk makan siang, berikut kopi acehnya yang gak pernah absen.
kopi Aceh gak pernah abseeen
Sementara sebagian lain bernarsis ria di pinggiran pantai, termasuk saya haha. Sementara ketika memasak, si babi hutan mulai menampakkan wujudnya, mungkin karena karena harum mi instan yang mengundang selera, tapi jangan khawatir, si babi gak nyerang manusia kok, termasuk ketika aku mau ke toilet, kita beradu pandang deg #eehhh salah focus, tapi karena aku manusia, aku biarkan dan mengalah biarkan dia yang menggunakan dulu sumurnya. Nah, untuk kebutuhan pembuangan jangan khawatir, kalau untuk sekedar pembuangan air kecil masih bisa dengan berjalan kaki kira2 Cuma 50 meter ada sumur tapi gak ada penutupnya, kalo buat air besar harus sedikit berjalan lagi ke rumah pawang, jadi gak perlu khawatir ada wc terbang atau wc nanem.
Hari pun mulai gelap, kita berjalan ke ujung bili untuk mengabadikan sunset, tapi sayangnya sunsetnya gak terlalu cettar karena ditutupi awan, nah di ujung bili ini kami banyak menemukan karang merah. 
Sunset di ujung Bilih


Karang merah ini unik lho pemirsah, gak banyak pulau yang memiliki kerang merah, hanya beberapa saja, dan jenis kerang ini ditenggarai sudah hampir punah.
Karang Merah di sekitar Ujung Bilih
Tapi sayang, kerang-kerang merah ini pecah dan terdampar hingga terlepas dari induknya, salah satunya disebabkan pengeboman ikan yang dilakukan nelayan yang tidak bertanggung jawab yang mengitari pulau elok tersebut. Kalau yang sudah terdampar dan mati, akan bewarna merah pucat, sementara yang masih baru, bewarna merah hati. Sebenarnya kalau airnya gak pasang, kita bisa menyeberang ke pulau seberangnya, yaitu pada pukul 11 siang, sementara pada pukul 2, air sudah mulai meninggi dan sulit bagi kita menyeberang karena karang-karang yang sangat tajam yang lumayan sulit dilalui.
Usai menikmati sunset, kita kembali ke perkemahan, memasak mie instan dan telur ala chef Fahry dkk, sementara yang lainnya memasang tenda lainnya untuk anak laki2, sementara yang lain lagi berfoto2 narsis dengan memanfaatkan cahaya dari api unggun dan senter. 

Oiyah, sangat disarankan untuk membawa lampu emergency, senter, juga power bank, karena di sini sulit mendapatkan listrik, listrik ada di daerah mercusuar, itu pun dengan menggunakan tenaga panel surya. yang letaknya cukup jauh.
Karena kelamaan menunggu nasi yang tak kunjung mateng karena angin kencang pake sangat, akhirnya beberapa dari kami ketiduran di dalam tenda, angin semakin kencang, tenda pun nyaris terbang, hingga akhirnya jam 2 pagi pawang menginstruksikan supaya kami tidur di menasah, karena tidak memungkinkan tidur di bibir pantai dengan angin yang membahana badday seperti itu. Dan akhirnya kami bobo cantik di meunasah, tidur cepat karena berencana pagi menuju iku manee untuk melihat sunrise. Dan yang uniknya, di pulau ini sama sekali gk ada monyet, dan nyamuk juga gak gigit, semut merahnya juga demikian, rombongan semutnya dibiarin aja dikaki gak bakalan gigit, ruar biasa kan =D.
Pagi dataaaang! Sudah diprediksikan kagak ada yang bangun pemirsah, ada sih tapi berat buanget buat beranjak haddeuh. Dan akhirnya jam setengah 7 pagi, selesai subuh, aku mengejar matahari di pinggiran pantai ditempat kami pasang tenda semalam. Subhanallah, matahari masi nungguin akyuwww ^^ akhirnya dapet deng puto sunrise hehehehe.
Sunrise Pulo Bunta
Selesai sarapan dengan mie instan again, kita berjalan ke daerah di mana mercusuar berada, atawa disebut dengan iku manee, perjalanan menempuh kira-kira 1 jam lah, tapi jadi lebih lama karena di tiap tanjakan kita selalu berhenti buat bernarsis ria, abis gak tahan cyiiin pemandangannya buagooos buangettt.



Perjalanan cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di mercusuar, kalo orang sekitar sini menyebutnya menara suar.
Menara Suar
Nah, mercusuar ini masi berfungsi sebagai lampu penunjuk bagi kapal sebagai penanda bahwa di sini ada pulau. Di situ juga terletak kantor penjaga pantai yang mengawasi navigasi dan koordinat mercusuar tersebut.
Ditengah-tengah ini ada pulau cinta, karena bentuknya seperti love sendiri ditengah tapi gak bisa diseberangi, karena gak ada boat.

Akhirnya, kelelahan dalam perjalanan terbayar dengan pemandangan yang ruaaar biate di iku manee ini whoooowwh. Sampe lupa kalo tadi kami udah jalan berkilo-kilo ditengah terik matahari ditambah jalanan curam yang menanjak.

Cukup lama kami menghabiskan waktu di iku manee yang tempatnya mirip grand canyon kawe ya :p di atas bukit aku melihat jurang lautan, di jurang itu terklihat satu-satunya ikan bewarna tosca, cakep banget, ternyata ikan bayen, sayangnya sebenarnya ada segerombolan, tapi mungkin karena ingin menyendiri atau juga bisa disebabkan dengan pengeboman nelayan sekitar pulau yang menangkap ikan, jadinya ikannya Cuma satu deng. Kata pak aryadi sih, ikan itu enak, tapi aku kasian, kok dimakan sik, pan tinggal seekor T_T.


Akhirnya setelah berlama-lama dan poto keluarga, kami kembali ke peraduan, nah, kali ini penat matahari mulai kerasa, akhirnya kita berteduh dikantor penjaga pantai tadi, disambut dengan ramah oleh bapak-bapak di sana. Kamipun berleha-leha dan tegechak update2 status karena ada sinyal, juga ada tv *whaaa padaal baru sehari gak ada listrik dan susah sinyal ckckck.


Karena berniat menyeberang pulau yang dekat dengan ujung bili sebelum airnya pasang, maka kami pun beranjak dari tempat tersebut, menuju pos dan mengangkut barang-barang untuk pindah pos ke dekat pelabuhan. Akhirnya setelah makan siang, kami ke ujung bili dan ternyata air sudah agak meninggi, Pak Aryadi tetap menyebrang di pulau seberang sementara kami kembali karena kaki terasa perih dan tergores karang sangat sulit berjalan di antara karang-karang dengan air laut yang mencapai pinggang dewasa. Lagian kami kasihan menginjak karang, merusak ekosistem dan biota laut kan yak.
Sementara sang Chef memasak mie instan dan telur di atas balee (rumah kecil di pinggir pantai) kami bercengkerama dan melihat hasil jeprat jepret dari kamera yuli, k jupe, dan ampon. Ehh tetiba si pak aryadi datang dengan membawa binatang laut bewarna ungu. Cuantik beud. Namanya subang gadung. Bentuknya seperti tempurung kura-kura, dan dibaliknya ada tentakel seperti cumi-cumi. 

si bapak juga membawa keong yang asik dibuat gulai pliek u (ketinggalan di pelabuhan T_T) dan 2 ekor subang gadung tadi. Nahh, subang gadung ternyata bisa di makan pemirsah, karena penasaran, akhirnya salah satu terpaksa dikorbankan dibakar di bawah batok kelapa sementara yang satunya dilepas karena kasihan.
Tereeeng akhirnya subang gadung sudah matang, ketika dibelah, isinya seperti telur ikan, dan rasanya manceps, lezattos,  seperti rasa kerang, ada juga yng bilang rasa kepiting. Nahhh karena enak, celetuk tuh salah satu teman “mana yang tadi dilepas? Uda jauh belum yahhh” hahhaa dassarr :p
Subang Gadung

Okey then, hari udah mulai sore, makanan juga uda abis, akhirnya tiba waktu pulang, ternyata angina makin sore makin kuenceng, pertanda angin badai akan datang. Sempat kami ragu untuk balik ke banda aceh. tapi mau gimana harus back to daily routine… akhirnya beber azah, kami berangkat dengan dua kapal, kapal/ boat kecil yang aku naiki ruarr biasa serunya, seperti rafting,  hahah aku malah senang, tapi temen satunya kaka juli ehhh pucat abis pemirsah, sabar ya kaka :D dikibulin fahry abis belokan uda nyampe- cyeilee emang di laut ada belokan ya --“ sekalian aja lampu merah paaak- akhirnya kami tiba di banda aceh dengan selamat sentosa dan sejahtera. Aku bawa oleh-oleh karang merah – tapi hanya potongan kecil yang terdampar di tepian pantai, ini karena g bole bawa banyak-banyak, karena kerang merah ini harta nya pulo Bunta, harus dilestarikan- daaan satu lagi, sampah-sampah semua harus dibawa pulang ya, karena demi menjaga kebersihan alam dan tidak mencemari lingkungan, semoga semua backpacker sadar akan hal itu amiiin, kasian kan udah menikmati alamnya eh malah nyampah, bener-bener dehhh ;/.
Hasil menyampah di Pulo Bunta yang dibawa balik ke Banda Aceh

Wuiiih what a fascinating trip with a solid team Bunta island, even just two days :D. ingin mengulang petalangan lagi, tapi di tempat berbeda, next time yak. Terima kasih aceh adventure, terima kasih k wanti, k juli, k icut, yuli, putri, nadia, dea, rifky, ampon, rahmat, sanca, fahry, silman, yassir, b iqbal, such a nice experience with u guys =D dan juga pak Aryadi dan penduduk Pulo Bunta yang ramah tamah. Eiyah, sekedar informasi, bulan maret 2014 mendatang, salah satu step yang dilakukan pemerintah dan juga pak aryadi dan kelompoknya adalah mengupayakan pengadaan Boat khusus yang lebih bagus, untuk akses para wisatawan yang mau berkunjung ke pulo Bunta, semoga lancar jaya ya, dan dukungan pemerintah sepenuhnya secara serius sangat diharapkan, karena penduduk Bunta sendiri sudah mulai menerima pendatang, terbukti sangat bersikap ramah pada kami, hal ini agar Pulo Bunta yang eksotis ini dapat dikenal oleh masyarakat luar dan memberi manfaat bagi penduduk setempat, bukan hanya menjadi destinasi wisatawan local tapi juga wisatawan mancanegara. Amiiiiiin.
Penjelajah Pulo Bunta


Monday, October 21, 2013

nope

sometime.. the light of fireflies, is not enough for themselves. a listen from salemba so far :)

Thursday, October 17, 2013

Cerita Tsunami


Wohow baiklah, meskipun udah beberapa tahun berlalu, aku akan menceritakan sedikit kejadian waktu Tsunami. Well hal ini dikarenakan dorongan salah seorang teman kampusku, Lodra. Dia mendorongku untuk menceritakan kisahku melalui tulisan. Dan, satu hal lagi, dikarenakan setiap orang bertanya asalku dari mana, Aceh, nah pasti mereka akan bertanya tentang Tsunami.. hehehe
Well kala itu minggu 26 Desember, mama seperti biasa weekend selalu ke banda aceh buat menjenguk kami, secara beiau selalu nemenin ayah yang masih tugas di Lhokseumawe, dan kemarinnya (sabtu 25 Desember) kami sempat menghabiskan waktu buat menikmati pantai ulee lheue makan mie, minum kelapa, bahkan mandi di lautnya (Alhamdulillah masih dikasi rezeki umur sama Allah). Biasanya, hari minggu, aku dan teman2ku sika, ayi, memutuskan untuk bersepeda atau sekedar jalan2 pagi ke blangpadang. Tapi entah mengapa hari itu mualess bgt, dan akhirnya aku lebih memilih berlari di dalam mimpi saja. Ketika di tengah asyik berolahraga dalam nirwana mimpi, tiba2 aku tersentak kaget, serasa ada orang yang menggoyang2kan kasur, lalu aku kaget & langsung melompat dari atas kasur.. nah berhubung aku tidur di lantai 2 (kalau di Aceh, lantai dasar dihitung juga jadi lantai 1) dari bawah terdengar teriakan saraaaaaaah gempaaaaaa. Langsung dah aku ngacir ke bawah terus lari ke luar rumah, tepatnya ke kios depan rumah, takut2 rumah bakalan roboh. Gempa semakin kuat, goncangan semakin dahsyat, aku ngeliat rumah udah miring2 karena hentakan gempa, dalam bayanganku, ini rumah seperti mau runtuh. Oh Tuhaan mohon ampuuun dalam hatiku terus mengucap istighfar dan namaNYA. Jangankan berdiri, kami semua terduduk di tanah saking hebatnya goncangan. Akhirnya goncanganpun reda, kami bersama tetangga berbincang2 sesaat, lalu kembali ke rumah masing masing. Sekira 10 menit setelah gempa ada beberapa orang berteriak sambil berlalu lalang dengan sepeda motor“Air Naik!!! Air Naiiiik!!!!” “Cepat cari tempat tinggi!” apa?!! aku bingung dan panik maksudnya air naik itu seperti apa? langsung teringat film The day After Tomorrow yang pernah aku tonton gk lama sebelumnya, ya Tuhaan apa lagi ini? Gumamku. Akhirnya aku sekeluarga bergegas ngumpulin barang2 seadanya, gerak cepat ngumpulin beberapa pasang pakaian. Semua kami naikkan ke mobil, gallon air, bantal, jaket, wuihh semua lah, kayak orang mau kemping gitu, setelah semua masuk mobil, kamipun mundur dari gerbang tapi apa daya, semua orang penuh dijalanan depan rumah, semua membunyikan klakson, dengan wajah panik dan bingung mau ke mana, ada yang gendong bayi, berbaju tidur, pakai handuk, wahhh semua penuh di jalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah dan menaikkan semua barang2 yang telah kami angkut tadi sekalian menutup gerbang rapat-rapat. Akhirnya aku dan beberapa ibu-ibu yang kebingungan, beberapa di antara mereka berasal dari asrama haji yang konon akhirnya diketahui banyak korban terjepit dan tergulung tombak tsunami di sana. Akhirnya kami naik ke lantai 2 menunggu apa yang terjadi berharap cemas dan getaran istighfar yang lirih terdengar. Dari atas, aku melihat banyak orang yang juga sampai naik ke atap2 rumah. Dan jalananpun sekejap sepi… Selang 3 menit, air hitam nan gelap memenuhi parit rumah, lalu datang yang juga lebih banyak, namun pelan seperti aliran air yang perlahan-lahan memenuhi halaman komplek hingga menjadi lautan hitam. Dan akhirnya mama mengambil inisiatif ke toko depan rumah untuk membeli semua makanan beras, telur, gula, minyak dll yang tentunya sempat dicatat dan akan diselesaikan di kemudian hari. Air pun semakin meninggi, aku melihat seorang gadis berjalan di depan rumahku dengan pakaian lusuh, kucel dengan rambut  dan badan yang penuh lumpur, terus terang saat itu aku mengira dia terpeleset jatuh ke dalam genangan air, karena air yang aku lihat di depan rumah baru hanya sebatas lutut. Setelah keadaan lumayan kondusif, kami berjalan kaki melihat sekitar. Masyaallah ternyata air yang tadinya genangan adalah air deras yang telah lebih dulu menghantam perumahan di sekitar kami. Mobil, mayat berhamburan, oh Tuhaaan pemandangan yang mengerikan!!! Ternyata gadis yang tadi kulihat adalah seorang korban yang sempat tergulung air. Dalam hatiku, inikah kiamat? Beberapa anak muda di komplek gerak cepat membantu mengevakuasi korban tsunami. Mayat ini bukan saja dari pantai lampulo, tapi juga ada beberapa dari Gampong Kajhu Aceh Besar yang memang letaknya sangat jauh berpuluh 2 kilo dari tempat tinggal kami.
Listrik, komunikasi juga mati, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengungsi ke Masjid Darul Falah, gak jauh dari rumah, namun gak terkena rembesan air tsunami. Kami tidur bersama pengungsi lainnya, berdesakan, dipenuhi ketakutan dan dikejutkan beberapa kali goncangan gempa. Beberapa memasak mi instan, nasi putih, untuk dibagikan, ketika aku mau ke toilet, ternyata juga ada beberapa mayat dari korban Tsunami yang ditutupi kain kafan. Ya Allah perasaan campur aduk.
Malam pun berlalu, meskipun hanya beberapa di antara kami yang bisa tertidur. Beberapa menangis, terpisah dari anggota keluarganya, da nada juga yang sibuk mencoba komunikasi dengan sanak keluarga. Pemandangan yang gak akan pernah aku lupakan. Di sebelah kami ada seorang nenek, beliau sendiri, tampak sedih karena gak tau di mana anggota keluarga lainnya sekarang. Tapi beliau coba bersabar dan terus berdoa, beliau juga memberi kami sebungkus bumbu kacang gado2. Memang terasa sekali saling berbagi di tempat itu, senasib, seperjuangan, dan perasaan saling memiliki yang begitu besar satu sama lain. Pagi pun tiba, gempa tidak henti-hentinya hingga satu ketika gempa kuat itu pun terjadi lagi, tapi tidak sekuat yang pertama, hingga kami pun panik dan mencoba keluar dari masjid. Namun akhirnya kembali lagi mencoba tenang ditengah kecemasan yang ada. Seketika suara tangisan pun memecah suasana tegang dan istighfar yang tak henti diucapkan, ternyata ada salah seorang anggota yang bertemu di masjid, kami ikut menangis terharu ya Allah masih Syukur kaluarga ku tidak ada yang terpencar, padahal pagi itu mama berniat mau ke pasar ikan di lampulo –lampulo adalah pasar ikan yang langsung bersebalan dengan laut, sering ikan2 di sana masih segar2 karena baru diangkut dari pelabuhan dan langsung dijual di tempat-. Suasana haru pun berubah menjadi sedih tatkala kami mendengar “si Adek mana?”, “adek pergi ke Lampuuk -salah satu nama pantai di Aceh- sama kawan2 nya maaaaa” ya Allahh bagaikan di sambar petir, tangisan kembali pecah dan si ibu nyaris pingsan. Sontak beberapa orang di antara si ibu mengingatkan istighfar…istighfarr -saat aku menulis ini meskipun udah berlalu beberapa tahun, aku merinding dan menangis mengingat ini-  hingga sore tiba beberapa anggota keluarga mulai bertemu satu sama lain, aku bisa merasakan bagaimana keresahan mereka, apakah keluarganya masih hidup berada di mana wallahu.
Sore itu kami memutuskan untuk mengungsi ke rumah saudara yang berada di Ie masen, gk jauh dari masjid. Kami memasak mie instan dan apapun itu untuk menggajal perut yang masi kosong. Masih diberi kehidupan dan rezeki seperti ini membuat kami sangat ingin berbagi. Setiap mereka yang di jalanan gak sungkan kami persilahkan mampir untuk sekedar makan atau minum di tempat ini, secara kami sadar pasti mereka cari makan juga susah. Alhamdulillah komunikasi udah mulai bisa, sekarang permasalahan adalah hp yang butuh di charge, in case listrik padam. Aku sempat connect dengan kakakku yang di Kalimantan, yang terus menerus berusaha menghubungi kami, dan juga bisa telfonan sama ayahanda tercinta yang tentu sangat luar biasa khawatir dari Lhokseumawe sana. Malam mencekam, tidur dalam gelap dan kesunyian dihantui trauma yang mendalam. Berkali-kali gempa susulan terjadi, ada yang sebentar, sedang, bahkan (menurut kami) tergolong kuat. Akhirnya kami tidur dengan dengan pintu yang terbuka. Anehnya segitu gedenya pintu terbuka gak satu ekor nyamukpun mengganggu tidur kami, padahal biasanya kalau sore pintunya kudu di tutup, kalo gak, nyamuknya bersilaturrahmi & pulang sampe pagi. Kami nginap di sana sampe hari ke 3.
Sorenya kami mencoba kembali ke rumah. Menuju rumah, jalanan becek dengan bau yang berasal dari lumpur hitam. Kondisi rumah acak adut, meja dan kursi plastik yang tadinya di halaman belakang terbawa ke gerbang. Ikan piaraan yang di kolam pun udah kemana rimbanya, padahal ada 5 ekor piaraan gurami yang udah gede bgt. Tetangga kiri kanan depan belakang belum pada balik kerumahnya.
Akhirnya listrik menyala (aku gk ingat persisnya di hari ke berapa) kami pun berbenah, membersihkan rumah dari lumpur. Kalau air di depan rumah sampe sepinggang dewasa, mumpung tanah rumah kami agak ditinggikan, jadi air yang masuk gak sampe selutut. Di hari ke empat ayahanda pun tiba menjemput kami, akhirnya kami putuskan untuk mengungsi ke lhokseumawe.
Diperjalanan, kami liat Pante Pirak (supermarket besar di Banda Aceh) roboh, rata dengan tanah, banyak korban terjepit dan meninggal di bangunan berlantai 3 itu. Banda aceh sekejap berubah, pusat kota berubah menjadi tempat suram layaknya suasana pemakaman, bangunan hancur acak-acakan, tanaman gersang, ditambah lumpur di mana-mana. Pemandangan yang tidak biasa pun terlihat, di setiap trotoar jalan berjejer mayat-mayat yang ditutupi dengan kain seadanya, terpal, handuk, apalah.. Ya Allah, Banda Aceh sekejap menjadi lautan mayat. Orang orang datang menghampiri penutup mayat, satu persatu… berharap2 cemas kalau kalau jasad yang tergeletak itu adalah anggota keluarga atau saudara mereka, aku paham, antara mereka berharap itu bukanlah atau memang benar jenazah kerabat mereka. Bahkan beberapa dari mereka tak kuasa menahan tangis ketika mendapatkan keluarga, saudara, ataupun kerabatnya. Kendaraan kami terus melaju, sampai ke depan aku melihat seorang bapak berjalan dengan pakaian lusuh tanpa alas kaki, mengendong anaknya yang ternyata oh Tuhan…sudah meregang nyawa, dipeluknya erat, beliau tertunduk, wajahnya pasrah terhadap  kuasa Tuhan…astagaaa hati ini luluh berkecamuk, sedih, sediiih teramat dalam…oh Aceh lon sayang….(bahkan menulis ini pun aku meneteskan airmata mengingatnya).
Yang buat aku salut adalah kepada anggota TNI, dari hari pertama mereka langsung turun tangan membantu warga, padahal mereka sendiri menjadi korban dari keganasan gelombang tsunami, belum lepas kesedihan ditinggal anggota keluarga, belum hilang kebingungan di mana istrinya, anaknya, selamatkah? Tapi mereka langsung turun membantu warga membantu mengevakuasi korban yang kemungkinan masih terjebak di reruntuhan bangunan. Jalanan pun sudah  dibersihkan hingga bisa dilalui transportasi. Angkat topi Pak!! Kalian memang abdi Negara.
Singkat cerita, melihat kondisi masih belum stabil, kami memutuskan untuk mengungsi ke Bireun, kampung kami karena ayahku made in bireun –whoa bahasanya-. Biasanya perjalanan dari banda aceh- bireun hanya memakan 4 jam kini 5 sampai 6 jam, karena banyak jalanan yang rusak. Di bireun kami sudah agak tenang, karena jauh dari laut, aku berharap malam ini bisa tidur dengan tenang. Di antara pertengahan malam, sekitar jam 2-3 malam, ada isu air laut naik. Orang-orang ramai berteriak, Astagaaa bencana ini.. semua penduduk termasuk kami juga panic hingga akhirnya meninggalkan rumah mencari tempat yang lebih tinggi, panic sepanik-nya, dengan pakaian seadanya kami pun bergegas pergi sampai aku menumpang mobil orang yang gk aku kenal, terpisah sama ayah bunda, dan kakak2 ku. Trauma yang terangat sangat, perasaan yang berkecamuk, benarkah ada Tsunami lagi?
 Akhirnya diketahui kalau itu adalah ulah provokator yang mengambil kesempatan untuk menjarah rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Ya Tuhaaan, masih ada ya orang seperti itu, ditengah bencana seperti ini :I.
Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe. Aku bersyukur sangat kejadian Tsunami gak terjadi di kota kecil ini. Lhokseumawe adalah termasuk kota penghasil gas, di Arun, Perusahaan Pertamina ada di sana. Gak kebayang kalau ada tsunami, kota kecil ini akan ludes tersapu, ditambah dengan bau gas yang menyengat, trus juga jalan keluarnya cuma satu, jembatan cunda, kalau itu hancur, sudahlah.
Ada hal yang membuatku sedih pakai sangat.. ketika aku di lhokseumawe, aku mendapat kabar, kabar itu datang dari Anto, sohibnya cekot, dia menelpon ku dan mengabari teman curcol ku, Fazlina, menjadi korban. Dia sempat dirawat di rumah sakit bireun ternyata, tapi tidak tertolong. Aku menangis semalaman sesenggukan sejadi-jadinya, bagaimana nggak, dia teman klop ku di sma, teman curhat, senang sedih kami bersama. Tapi aku akhirnya mencoba tenang dan mengikhlaskannya.
Di kota ini aku melanjutkan sekolah ku di SMUN 1, bertemu dengan teman kecilku, wiwik, karena aku dulu sempat mengenyam pendidikan di daerah ini. Sedikit aku cerita flashback, ayahku dipindahtugaskan ke kota ini sekitar tahun 1994 ketika aku SD, masa-masa itu adalah masa di mana keadaan Aceh tidak kondusif. Ayahku yang diberi amanah memimpin sebuah dinas, kerap kali disambangi orang-orang tak dikenal, pernah suatu ketika dalam perjalanan ke daerah dekat simpang kramat hampir sampai ke bireun, mobilnya di rampas oleh yahhh you know lahh, dan masih syukur Alhamdulillah si ayah gak di apa2in, bahkan rumah kami kerap diteror akan di bom, hingga akhirnya ayah memutuskan anak2nya lebih baik di banda aceh saja, sampai akhir 1998 aku di sana, dan kembali memasuki sekolah lanjutan tingkat pertama hingga kuliah di Banda Aceh tercinto.
Nah, di SMUN 1 ini aku cuma belajar kira2 gak sampe sebulan. Di sekolah ini aku bertemu teman2 baru, salah satunya Juliana, pemain eumpang breuh –film komedi laris di aceh- yang kini udah menjadi artis ibukota dan udah merid sama Herman, gitaris Seventeen. Akhirnya, aku memutuskan melanjutkan kembali di SMUN 3 BNA, karena teman-teman sudah kembali bersekolah dan sayang uda setengah jalan. Banyak teman-teman yang menjadi korban, dan mudah-mudahan mereka tenang di alamnya dan dihapus dosanya, RIP to Riza Pahlevi, T Taufiq, Heni, Lianarita, Fazlina, Nova, Fazlina, and all of them who can’t to mention.

At least, Tsunami juga membawa hikmah bagi rakyat aceh, Thanks to the World telah memulihkan rakyat aceh dari trauma dan bencana Tsunami. Aceh kembali damai, dikenal dunia, lebih maju, bangunan juga lebih baik, tapi ada juga implikasi dari banjirnya bantuan yang diberikan, dan akan aku bahas next time ya. Terimong Geunaseh :) damai Indonesia. Dari salemba.

Wednesday, September 25, 2013

faith

alowha, still work on tasks, but i decided to write something in my blog. Well i arranged my letter of studying yesterday, i sat on  canteen alone and taking lunch. a cat has come and i gave 'him?' a part of my lunch, than while i finished my lunch, a man come and want to join w/ me, i said i'm so sorry then, i'm in hurry, maybe next time i said. i don't know why, i just want to a be kind person, i don't expect that them have something what we said 'misinterpretation'. than i come home and my mum (i assume tante kos as my mum) gave me a piece of macaroni schotel that she had already baked. well, what i want to say to you is something what in my mind. I have some faith or we can say it conviction and i put in on my subconscious mind, i believe every one who standing or directly contact around me, are a good person. as 'selfishly' i'm not really surprise while everybody show them 'angel' side to me.  i thought it was well-earned. a life is like 'looking glasses' we know about our self by reflection to whom we are make relation with, to whom we are interaction with, do we did the same? do we good enough to attract a good people around us?  So, at least i also don't mind while they step away from me. because i believe the power of faith, GOD will make a separate with people who not good enough for me. And i believe it, always....
c u on the next post ;)
danke

Saturday, September 21, 2013

sunday

have a great sunday everyone. wahh sangat terasa ya, perbedaaan weekend pasca dan weekend s1 dulu, kalo dulu mah, sesibuk2 apapun, aku masih menikmati weekend, nah kalo sekarang? boro boro senin kudu nyiapin 2 presentasi hahaa asiiik. jak kuliah lom :p.
c u guys

Friday, September 20, 2013

rapat perdana FGIM

whoooow akhirnya jadi juga rapat setelah berhari2 mangkir. actually bukan mangkir sih, karena selama ini jadwal selalu bentrok sama kuliah. tadi udah dijelasin part of acara, dan kita tu kebagian di aulanya, katakanlah, pandai sigap. yang merupakan wahana semacam kuis/ games yang mengasah kemampuan secara umum aja. nah kalo disini aku dapet dibagian materi. nah artinya aku bakalan harus siapin slide dan pertanyaan2 yang bakal diberikan kepada peserta. okeyy, cukup menantang, mengingat aku tertarik di slide. kali ini aku ajakin yuli adik angkatan aku, trus juga dia ngajak temannya namanya tika. dan mereka termasuk volunteer tuk acara FGIM nanti, hehehe bisa juga menjerumuskan orang gw yak :p. besok tuh simulasi acaranya, mudah2 an lancar ya bo. dan kembali lagi buat ngerjain tugas mc quail ufffff mumet mumet mumeeeet.
cacaw

Wednesday, September 18, 2013

tugas menumpuk dan temen2 baru lagi

well hello again, how's life?
ini memasuki minggu ke3 sebagai mahasiswi pasca ui, wah, tentunya dengan tugas2 yang mulai keliatan, dan teman2 yang mulai kurang jaim lagi hahaha :p, namanya juga penetrasi sosial, kita akan semakin mengerti, dekat, dan memahami orang lain. melihat teman2 yang punya kerjaan di sini, terus terang ada sebuah keinginan bagi aku untuk meniti karir di sini dan akan pulang ketika sudah berhasil dan ada yang bisa aku banggakan nanti, semoga aja tercapai. ada satu yang harus aku pelajari lebih, adalah managing time, aku kebingungan untuk menempatkan waktu2, serasa 1x 24 jam is not enough. i dont know why,,, mulai managing waktu dari sekarang deh, harus dipaksa dan dibiasakan. uwmmm maybe in oktober later i ll getting job or doin something. gk mau lagi jadi tukang kuliah, aktif diskusi dan bergabung di beberapa ukm. yesss, yang lagi kuincar ini komunitas budaya. mendalami budaya menjadi hal yang menarik, dari sini kita melihat bagaimana menerima perbedaan. okeyyy c u again, mau prepare buat diajakin makan bakso sama mba mega yang cantik hehehe
cacaw